The Best Era


Aren't we living in the best era?

Belakangan ini aku kepikiran sesuatu mengenai era yang sekarang sedang kita tinggali. Konteks 'kita' di sini mengacu kepada anak-anak muda usia produktif, ya. Sebagai manusia muda yang sedang berada di usia produktif, kita pasti ingin mengeksplorasi banyak hal, bebas berekspresi, dan berkarya sesuai dengan apa yang kita minati. Untuk melakukan itu semua, kita tentu butuh dukungan dari berbagai sumber. Thanks to kemajuan teknologi (khususnya media sosial), sekarang kita mendapatkan kemudahan akses untuk berekspresi dan menyebarluaskan karya. Kebayang nggak, sih, dulu semuanya serba manual dan hanya orang-orang tertentu saja yang dapat naik ke permukaan.

Banyaknya karya anak muda yang bermunculan itulah yang memicu masyarakat semakin terbuka, mengakui, dan mendukung. Buktinya, profesi atau pekerjaan zaman sekarang sudah bermacam-macam, tidak melulu profesi you-know-what yang dulunya dianggap 'realistis'. Yah, meskipun masih ada beberapa kalangan (terutama di Indonesia) yang belum terlalu terbuka akan hal itu. Tapi tidak masalah, karena makin ke sini makin terasa geliat industri kreatif/seni yang sedang naik daun. Bahkan menurut pengamatanku, saat ini bidang industri tersebut sedang mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya.

Aku memang nggak punya data, tapi itu semua bisa dilihat dari banyaknya event creative market yang bermunculan di berbagai kota, belum lagi agensi/media yang fokus menyorot creative makers, serta Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) kita yang sedang gencar-gencarnya mendukung anak muda untuk berkarya. See? Produk kreatif karya anak muda yang dulu kurang diperhitungkan dan dianggap tidak bisa menghidupi, kini perlahan tapi pasti mulai mendapat tempat di masyarakat.

Itulah mengapa aku merasa era saat ini adalah era terbaik yang pernah ada. Saat kita berusia produktif dan mendapat dukungan sebesar-besarnya untuk bebas mengekspresikan diri. Bukankah itu yang selalu diidam-idamkan anak muda? :)


P.S.: Bagi yang belum mendapat dukungan dari orang-orang terdekat, tolong bersabar dan bertahan, ya! Suatu hari kalau kalian sudah bisa membuktikan, mereka pasti akan mengerti. Semangat!



Living Life to The Fullest


Sumber: nyusic.com

Jadi, pagi tadi tetiba kepikiran frasa yang menjadi judul tulisan ini: Living life to the fullest atau dalam bahasa kita 'menjalani hidup dengan gas pol mamen!' hehe. Memang tak dapat dipungkiri bahwa belakangan ini entah sudah berbulan-bulan atau bahkan tahun(?), aku merasa ngambang aja, gitu. Hidup sih hidup tapi ya gitu-gitu aja. Rasanya aku nggak pindah-pindah dari persimpangan itu. Aku sadar banget bahwa aku harus berbenah, cuma aku selalu bingung harus mulai dari mana. Teorinya sih, 'fokus saja sama apa yang ada di depan mata'.


Pssstt intermezzo :p Today is my sister's birthday! let's wish her the best and happines!! xx

Masalahnya adalah, semua hal terasa sama pentingnya di waktu yang bersamaan. Alhasil aku sulit menentukan fokus atau let's say, aku masih susah untuk menentukan prioritas. Sejauh ini sih aku berusaha menahan diriku untuk jangan panik dan gegabah. Pelan-pelan gapapa asalkan nggak jalan di tempat. Seperti mantra yang selalu aku rapalkan; Aku yakin aku bisa karenaNya. Oke bhaique, sekali lagi itu teori yang masih menjadi salah satu PR besar buatku pribadi. PR yang lain? Berikut daftarnya:

1. Bekerja dengan sebaik-baiknya
2. Mencintai dengan penuh gausah takut patah hati
3. Berbagi apa pun setulus-tulusnya
4. Menangis sekencang-kencangnya apabila perlu
5. Belajar dengan penuh semangat
6. Memanfaatkan waktu seefektif mungkin
7. Berjalan sejauh-jauhnya
8. Beribadah sekuat-kuatnya.

Intinya, lemparkan saja dirimu dan hadapi semuanya. Random banget yaa isi pikiranku? IYAAAA EMAAANG!!!

Let's living life to the fullest!

With <3
O.



Ketidakpastian dan Perputaran Roda


How life is full of uncertainties.

Penuh ketidakpastian. Nasihat yang dulu sering dikumandangkan ke telinga memang benar adanya, bahwa roda itu berputar sama halnya dengan kehidupan kita. Ada kalanya kita di atas, dan ada saatnya kita akan berada di bawah.

Terkadang, perubahan itu serasa kejutan yang tak disangka. Kemarin mungkin kita bersuka ria di atas awan, eh tiba-tiba hari ini kita diharuskan untuk mendayung rakit di arus deras. Benar-benar tiada yang tahu kecuali Dia.

Baiknya, Dia dengan terang-terangan memberikan kita contoh untuk dijadikan pelajaran. Contoh berupa peristiwa yang terjangkau oleh mata kita. Begitu pun aku yang seringkali menjumpai orang yang sedang menghadapi ekstremnya ketidakpastian hidup, terutama ketika mereka sedang berada di bawah.

Mereka punya caranya masing-masing dengan berbagai lapisan rencana. Cara yang terkadang membuatku heran dan terkagum-kagum. Bagaimana bisa mereka melewati semuanya setenang itu, selihai itu, sesabar itu. Membuatku berpikir kira-kira putaran roda seperti apa yang nanti akan kualami. Akankah sekencang itu atau bahkan lebih. Siapkah aku dan sudahkah aku punya rencana berlapis? Jadi pusing mendadak wkwk.

Atasan di kantorku pernah bilang, "Roda memang berputar. Tinggal bagaimana caranya kita harus mempercepat putarannya ketika kita ada di bawah, dan memperlambat putarannya ketika kita di atas." hmmm masuk akal memang. Jadi yang sebenarnya harus dihilangkan adalah keraguan dan ketakutan yang bersarang dalam diri. Susah sekali memang, tapi bukan berarti tidak bisa. Well, semoga Tuhan senantiasa dekat dan membimbing kita.


Tentang Hari Ulang Tahun


Hari ini (22/06) adalah hari ulang tahun ibuku. Karenanya aku jadi teringat tentang pro-kontra perayaan hari ulang tahun. Kontranya adalah; ulang tahun tidak boleh (atau bahasa ekstremnya 'haram') dirayakan, atau bahkan hanya sekadar mengucapkan selamat kepada yang bersangkutan. Alasannya karena masing-masing dari kita sudah punya jatah umur untuk hidup di dunia. Jatah umur kita akan berkurang setiap harinya, dan begitu pula setiap tahun. Maka dianggap tidak elok apabila kita bersuka ria pada hari tersebut. Sebaliknya, kita dianjurkan untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan untuk bekal kehidupan di akhirat.

Sebagai muslim tentu aku mengimani bahwa suatu hari nanti kita akan sampai pada umur yang sudah ditentukan. Ya, kita semua sedang dalam perjalanan menuju ke sana dan memang benar bahwa setiap tahun jatah umur kita berkurang. Namun, mendekatkan diri kepada Tuhan aku rasa memang sudah menjadi kewajiban (atau bahkan kebutuhan) dan bukan semata-mata dilakukan karena kita akan mati.

Hari ulang tahun selalu aku maknai dari sisi yang berbeda.

Bagiku, momen kelahiran adalah sesuatu yang sangat sakral, haru, dan pantas untuk dikenang. Pokoknya luar biasa. Selain karena izin Tuhan, terdapat proses dan perjuangan dari berbagai pihak yang tidak main-main. Mulai dari pernikahan ayah ibu kita, saudara, sahabat, tenaga medis, tetangga atau bahkan supir taksi pun bisa terlibat. Belum lagi rasa sakit yang ditanggung seorang ibu ketika melahirkan. Antara hidup dan mati, katanya.

Setelah proses itu semua, lalu lahirlah orang-orang yang kini ada di sekeliling kita. Orang-orang tersayang yang membuatmu terus bersyukur kepada Tuhan karena telah menghadirkan mereka ke dunia. Nah, begitulah aku berusaha memaknai hari ulang tahun. Aku bersyukur karena mereka ada. Aku turut bahagia karena mereka berhasil terlahir ke dunia dengan segala proses yang ada di belakangnya, dan untuk itulah aku mengucapkan selamat.


P.S.: Iya, tulisan ini sudah dibuat sejak 22/06/18 tapi baru terselesaikan sekarang, hehe


2017-2018


Sumber: Pinterest

Semoga belum terlalu telat untuk mereview tahun 2017 kemarin. Hmm, kalau saya sih menganut pepatah Better late than never, hehehe. Alhamdulillah tahun 2017 bisa saya jalani dengan seru. Kenapa seru? Well, memang nggak banyak momen yang menjadi hilight seperti tahun 2016, tapi ternyata dugaan saya di penghujung tahun 2016 benar adanya, bahwa 2017 akan jadi tahun yang penuh kejutan. Yeay!

Ah, nggak cukup rasanya saya berterima kasih atas doa-doa yang dikabulkan dengan cara yang tak disangka-sangka. Tuhan memang Maha Asique sampai kadang takjub sendiri kalau diingat-ingat. Bersyukur karena keluarga masih direkatkan dan semuanya bertahan dengan gembira di atas masalahnya masing-masing, hahaha. Ditambah lagi ada anggota baru di keluarga kami; Nasywa Almahyra Mufti, putri pertama Mas Muflikh dan Mba Aci yang lahir pada 7 Oktober 2017 lalu. Dia lucu sekali dan tentu saja membawa kebahagiaan baru bagi kami. Selain Nanas (panggilan sayang saya untuk Nasywa yang lebih karena nama aslinya susah hehe), saya juga punya teman baru yang bernama Baba (atau Rafli juga bole). Kami saling kenal sejak 16 Juli dan entah bagaimana dia bisa masuk ke dalam kotak berisi manusia-manusia yang selalu saya rindukan. Huh. Hingga saat ini, saya masih mengikuti jalannya waktu sambil terus penasaran bagaimana ujungnya. Auoo~

Tahun lalu, saya berjanji untuk lebih banyak membaca dan menulis di 2017. Bagaimana hasilnya? Lumayan lah untuk ukuran orang yang baru mulai hahaha pembenaran. Meskipun nggak banyak-banyak amat, yang penting jauh lebih mending dari 2016 hahaha pembenaran lagi. Ternyata berat juga, ya, untuk memulai suatu kebiasaan baru yang baik. Semoga tahun ini bisa lebih dan lebih lagi, setidaknya membaca berita terkini melalui aplikasi yang sudah bertengger di ponsel tapi tak kunjung dibaca, hahaha. Maklum namanya anak kost nggak ada tipi.

Tanggal 1 Januari 2018 (dini hari) lalu, Baba bertanya apa resolusi saya tahun ini. Duh, saya malah nggak ingat untuk bikin begituan. Jadilah detik itu juga saya putuskan bahwa saya harus menjadi manusia yang lebih berkualitas (jawaban klise dan nggak spesifik karena nggak ada ide wkwk), dapat kerjaan baru, dan menabung lebih tertib. Tertib dalam artian konsisten dan jumlah setoran tiap bulannya nggak menurun, hahaha wakwaw.

Segala yang terbaik tentunya untuk 2018. Semoga kita selalu diberkahi oleh Allah di setiap langkah dan keputusan yang kita ambil. Selamat dan semangat menjalani tahun yang baru ini , yaa. Kali ini saya nggak mau nebak-nebak, ah :p


xx
Dyah Nur Khoiriyah




Le choix

When you know someone you care about does something heartbreaking and all you can do is standing there, feezing and acting like nothing's wrong. When you really really really want to protect her/him but just end up smiling quietly, no no, you say, you don't want to bother her/him with your words. Not anymore. Life is about making choices, and each choice comes with its consequences. You gotta deal with it. When the time's here, you know you have that one condition to be offered. You know you have to let her/him to choose and when she/he chooses the opposite, you must be ready. It's your ego but who cares? You promise yourself times ago :)


Pulang Sebentar

Boleh dibilang catatan kali ini adalah bentuk penebusan rasa bersalah saya karena sudah (sekitar) dua minggu terakhir (atau sudah sebulan huhuhu cry) tidak menulis di Buku Bersyukur. Seperti menulis skripsi, yang kalau sudah dua atau tiga hari ditinggal, rasanya malas untuk kembali. Tapi yang jelas, suatu saat saya harus. Hehehe. Dan perlu diakui, tulisan ini pun sempat tertunda pula beberapa minggu huhuhu tapi akhirnya saya berhasil melanjutkannya, dengan dibantu iringan suara Tulus. Halah.

Jadi, beberapa minggu lalu (21-25/8) saya berkesempatan untuk pulang ke Jogja. Pulang kali ini sedikit berbeda karena saya pulang bukan untuk liburan atau kumpul keluarga, melainkan ikut semacam workshop penerjemahan di kampus FIB. Ya memang, lumayan lama sampai lima hari. Saya sudah senang karena akhirnya dapat izin dari kantor. Tapi ternyata nggak bisa terlalu senang juga karena saya ke Jogja sambil membawa pekerjaan kantor hahaha ya sudah, bukan perihal itu yang mau saya ceritakan.

Senang sekali rasanya pulang dan ketemu lagi dengan orang-orang itu. Sebagian besar teman dan kampus, karena di rumah sedang tidak ada orang (bapak dan ibuk kebetulan sedang di Jakarta). Mumpung kemarin sempat ambil-ambil foto, jadi saya akan cerita melalui foto saja ya...

Nggak tau ini namanya pohon apa, tapi saya suka.

Wisuda 1. Selamat wisuda untuk Kania dan Anin! Kania adalah teman satu jurusan saya, sedangkan Anin adalah adek 2013 di Zona Nyaman (atau untuk sekarang namanya sedang ganti jadi Zona Karyawan wkwk)

Wisuda 2. Momen wisuda memang bisa jadi ajang reuni karena kita bisa bertemu banyak teman yang sudah lama tak jumpa. Yang berkaos hitam namanya Angga. Katanya sih, dia mirip Abimana Aryasatya hmmm oke, atau Wong Fei Hung kalau jidatnya terekspos hahaha. Yang berbatik namanya Khusnul, mas-mas S2 yang kalau menulis sepertinya sambil buka KBBI karena diksi-diksinya berat boss nggak kuaaattt. Meski keliatannya tidak meyakinkan wkwk, tapi mereka pintar dan punya pemikiran-pemikiran yang dalam. Kami bertiga beda jurusan, tapi satu angkatan dan merupakan sebagian kecil dari STMJ. Jangan tanya apa itu STMJ hahaha. Oh iya, sekadar informasi, di belakang kami adalah Panggung Terbuka. Setiap anak FIB saya kira pernah pentas di sini setidaknya satu kali; entah itu tari, musik, atau bahkan teater.

Wisuda 3. Hasty, musisi kebanggaan FIB yang (kayanya) paling sering manggung. Bisa main banyak alat musik, bahkan nari saman dan melukis. Pernah jadi koor artistik di Kampung Budaya 2014 dan itu sukses beraatt. Bertalenta banget pokoknya Hasty ini. Kami beda jurusan, tapi satu angkatan dan merupakan sebagian kecil dari STMJ.

Wisuda 4. Mereka berempat ini teman saya satu jurusan; Ficha, Shinta, Ega, dan Dila. Waktu itu kami sedang menunggu Kania, eh malah foto yang sama Kania saya ngga punya :( Walaupun saya nggak terlalu dekat dengan teman-teman sejurusan, tapi ternyata kangen juga hehe.

Salah satu cuplikan kegiatan workshop yang saya ikuti. Hehe nggak banyak foto-foto soal ini, padahal ini agenda utamanya.

Didy dan Wada di bangtem (bangku item) dekat Jembatan Budaya (dulu penyebutannya disingkat juga, tapi belakangan saya sudah jarang dengar istilahnya lagi hahah).

Gedung baru 1. "Wad, foto di depan pintu merah itu kaliii", "Jelek, Mba, aku udah nyoba."

Gedung baru 2. Jadi, beberapa bulan terakhir sudah berdiri gedung baru di FIB, gedung yang kemudian diberi nama Gedung Soegondo. Meski mentereng, saya bersyukur gedung ini tidak terlihat seangkuh Pertamina Tower di fakultas sebelah, hehe. Menurut masterplannya, pembangunan gedung ini akan dilanjutkan sehingga (selain menghilangkan Gedung D) akan menggantikan Gedung A dan B (dua gedung ini adalah yang tadi dihubungkan oleh Jembatan Budaya) huhuhu sedih sekali, walaupun bagus, tapi rasanya kok tidak rela. Kenangannya itu, lho. Kalau kata Unggul, "Gedung anyar yang membuat FIB terlihat seperti kampus bukan lagi rumah. Terasa seperti hanya tempat untuk datang duduk mendengar ceramah pulang dan seterusnya dan seterusnya rutin berulang bukan lagi tempat untuk berkumpul menyatukan ide dan merapatkan diri bersama deretan muda mudi yang gemar patah hati." hahaha halah. 

Siapa yang bacanya sambil nyanyi?

Sesi foto dadakan setelah kelas terakhir workshop. Dua perempuan di tengah itu Mba Arum dan Mba Sandy, dosen muda kami yang paling nggak terima kalau dipanggil 'Madame'. Keduanya hobi sekolah dan sebentar lagi mau terbang ke sana untuk jadi Doktor, wew. Tiga orang lainnya ada Idham (2014), Didy (2013), dan Wada (2013). Kami berempat beda angkatan tapi sebenarnya kami seumuran haha 1994 fellas!

Golden hour.

Malam terakkhir di Jogja bersama Wada dan Kiky. Saya baru benar-benar kenal Wada waktu mengurus C'est la Fête 2014, dia jadi anggota divisi saya. Kalau Kiky, kami saling kenal di Zona Nyamnyam itu. Saya ngga tau pasti mengapa sejak itu kami jadi dekat. Yang jelas, bersama mereka saya jadi merasa punya adik. Semoga skripsi mereka bisa segera selesai, tentunya sesuai timing mereka masing-masing. Fotonya blur nggapapa yang penting tetep love you muah.

Bukan, bukan. Ini bukan kampus saya hehe. Lantai Bumi Coffee & Space yang ada di Pogung Baru. Waktu itu saya ke sana karena harus menyelesaikan kerjaan kantor dan butuh WiFi plus suasana yang tenang. Baru sekali mencoba dan ternyata asik juga. Sekalian waktu itu saya mau ketemu Razan (yang nggak datang2) untuk sedikit berbagi kabar.


Et voilà! Begitulah sedikit cerita saya edisi pulang sebentar kemarin. Saya memang tidak sempat main ke tempat-tempat hits atau yang jauh, tapi saya bersyukur sudah diberi kesempatan untuk kembali pulang dan menemukan kehangatan. Sampai jumpa lagi, Jogja. Segera, segera, segera. <3